Loading...

Jul 31, 2016

Pengertian Sales Person Atau Salesman Dalam Penjualan

Definisi Sales Person Atau Salesman

Seperti telah diutarakan bahwa pengertian Sales secara sederhana adalah penjualan. Dalam bukunya Sihite (1996:86) menyebutkan bahwa Sales adalah Merchandise (Something to be sold) plus Service. Dalam buku yang sama juga dijabarkan mengenai Salesmanship yaitu kecakapan seorang Sales dalam menjual yang meliputi proses dalam penjualan yang dimulai dari langkah pertama sampai dengan terlaksananya suatu penjualan. Jadi pengertian Sales Person atau Salesman di sini adalah individu yang menawarkan suatu produk dalam suatu proses penjualan.           
Fungsi dari seorang sales adalah :
  • Untuk memotivasi calon pelanggan agar ia bertindak dengan suatu cara yang dikehendaki olehnya yaitu membeli.
  • Dapat mengarahkan sasaran mana dan kepada siapa produk akan ditawarkan dan dijual.
  • Dapat meyakinkan atas manfaat dan kelebihan produk yang ditawarkan.
  • Dapat meyakinkan calon pelanggan yang diketahui ragu-ragu dalam mengambil keputusan atau menentukan pilihan.
Definisi Sales Person Atau Salesman

Beberapa hal yang harus dikuasai oleh tenaga penjual / Sales person adalah (1) product knowledge, (2) price policy, (3) human relation.

1.      Product Knowledge  (pengetahuan tentang produk)

Adalah yang meliputi masalah yang berhubungan dengan keadaan fisik, jenis, ukuran, design dan warna, manfaat terhadap konsumen, bahkan kelebihannya dengan produk lain yang sama.

2.   Price Policy (kebijaksanaan harga jual)

Sejenis produk yang ditawarkan atau dijual mempunyai klasifikasi harga. Adanya suatu design harga tertentu yang ditawarkan untuk suatu volume penjualan. Apakah ada insentif tertentu (discount/commission) bagi pembeli.

3.     Human Relation.

Kemampuan tenaga penjual dalam hubungannya dengan masyarakat pasar tertentu untuk mempengaruhinya dan pada akhirnya menjadi konsumen. Pendekatan perorangan sangat membantu keberhasilan dengan ditunjang kemampuan berkomunikasi.

Artikel terkait: Pengertian, Contoh, Jenis-Jenis Iklan dan cara strategi Komunikasi Pemasaran

Setelah menguasai tiga hal penting diatas maka ada baiknya melakukan tahapan demi tahapan dalam proses penjualan. Tahapan-tahapan tersebut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh seorang Sales dalam melakukan proses penjualan yang diharapkan berujung pada keberhasilan. Langkah-langkah tersebut adalah sbb :

1.      Approach (pendekatan kepada prospek)

Pendekatan kepada calon pembeli/konsumen memerlukan persiapan dan perencanaan yang baik yang antara lain pengetahuan tentang :
  • Siapakah calon pembeli/konsumen ?
  • Apakah kebutuhan/keinginannya ?
  • Adakah kemungkinan perubahan situasi atas kebutuhan maupun produk yang ditawarkan ?
  • Siapkah kiat dengan penolakan/keberatan.
2.     Presentation (penyajian)

Dalam tahapan presentasi seorang sales harus sanggup menjual “Dirinya” dalam arti mau membantu memuaskan kebutuhan para konsumen (misalnya membantu memecahkan persoalan para calon konsumen terhadap suatu produk yang dijual). Komunikasi adalah merupakan sarana paling menentukan untuk mengetahui kebutuhan pembeli :
  • Tata bahasa yang baik
  • Courtesy / kesopanan
  • Jelas / tepat, tidak berbelit-belit
  • Memberikan ide, manfaat dan kelebihan produk.
Satu hal lain yang tak kalah pentingnya adalah First Impression atau kesan pertama kepada pelaku penjualan yang positif akan membantu kelancaran proses penjualan.

3.      Selling (menjual)

Proses menjual dari seorang sales harus dapat memberi keyakinan kepada pembeli atas manfaat dan kelebihan produk yang ditawarkan. Dengan bekal Product Knowledge dan pengembangan komunikasi yang efektif diharapkan pembeli menjadi pelaku pembeli.

4.      Closing The Sale.

Suatu transaksi penjualan terjadi karena penjualan memperoleh persetujuan dari calon pembeli untuk membeli atau menggunakan produk/jasa yang ditawarkan. Tahapan ini merupakan keberhasilan seorang penjual mempengaruhi dan meyakinkan calon pembeli. Langkah-langkah administratif untuk menutup penjualan dapat berupa : statement, order dan tanda terima pembayaran. Dalam jasa pelayanan wisata maka pembeli/konsumen akan menikmati produk wisata setelah terjadinya closing the sale.

5.      After Sales Service

Kesempurnaan dari suatu penjualan yang berhasil adalah ditutup dengan Pelayanan Purna Jual. Kegiatan tersebut antara lain  :
  • Pemberian ucapan terima kasih melalui surat, atas pembelian suatu produk   atau jasa.
  • Memberikan suatu kenang-kenangan (souvenir).
  • Mengirim kartu ucapan pada hari-hari besar atau ulang tahun.
  • Megadakan direct contact secara regular.
Baca juga: Pengertian Market Share atau Pangsa Pasar

Tugas-tugas Seorang Sales Person

        Yang akan diuraikan di sini adalah tugas-tugas dari seorang sales secara umum, menurut Sihite (1996:78), yaitu :
  1. Melaksanakan kegiatan penjualan melalui telepon terhadap target konsumen (perusahaan-perusahaan perdagangan dan industri, kantor-kantor pemerintah, asosiasi perkumpulan keagamaan, olahraga, sosial, konsulat) secara sistematik, serta melengkapi laporan kegiatan untuk setiap hubungan yang dilakukan.
  2. Memelihara semua hasil analisis penjualan yang telah dibuat.
  3. Atas persetujuan pimpinan, dalam melaksanakan kerjasama dengan perwakilan perusahaan lain dalam memperoleh peluang usaha, melakukan penjualan bersama, mendiskusikan strategi dan sebagainya.
  4. Melakukan tindak lanjut pelayanan, untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
  5. Melakukan tindak lanjut setiap kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh peluang usaha pada saat mendatang.
  6. Menghubungi humas setiap saat dan memberikan bantuan apabila diperlukan, misalnya dalam memberikan hadiah-hadiah promosi kepada para pelanggan.
  7. Melaksanankan kegiatan pemasaran lainnya sesuai dengan tugas yang diberikan oleh manajer penjualan.
Sekian pembahasan kali ini tentang Pengertian Sales Person Atau Salesman. Semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.
Instrumen Moneter Bank Indonesia Dalam Mengelola Bank syariah

Mengelola Bank syariah

Di Indonesia terdapat dua sistem perbankan, yaitu sistem bunga (interest rate system) dan sistem bagi hasil atau yang lebih dikenal dengan sistem tanpa bunga (free interest rate system). Keberadaan kedua buah sistem ini secara de facto sudah dimulai  semenjak Bank Muamalat Indonesia (BMI) berdiri.

Dan semenjak Bank Indonesia mengeluarkan instrumen SWBI (Sertifikat Wadiah Bank Indonesia) maka Indonesia mempunyai dual monetary system yaitu mekanisme tingkat bunga dan bagi hasil.

Dasar pemikiran manajemen moneter dalam konsep ekonomi islam adalah terciptanya stabilitas permintaan akan uang dan terarahnya permintaan akan uang kepada tujuan yang penting dan produktif. Dengan demikian, setiap instrumen yang mengarah kepada instabilitas dan pengalokasian sumber dana secara tidak produktif akan ditinggalkan (Adiwarman Karim, 2002).

Bank Indonesia Dalam Mengelola Bank syariah

Terhadap bank-bank yang berdasarkan syariah Islam, BI menjalankan fungsinya sebagai bank sentral dengan instrumen-instrumen sebagai berikut (Karim, 2002: 203-204):

1). Giro Wajib Minimum (GWM): Biasa dinamakan juga statory reserve requirement, adalah simpanan minimum bank-bank umum dalam bentuk giro pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI berdasarkan persentase tertentu dari dana pihak ketiga. GWM adalah kewajiban bank dalam rangka mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip kehati-hatian perbankan (prudential bank) serta berperan sebagai instrumen moneter yang berfungsi mengendalikan jumlah peredaran uang.

Besaran GWM adalah 5% dari dana pihak ketiga yang berbentuk IDR (rupiah) dan 3% dari dana pihak ketiga yang berbentuk mata uang asing. Jumlah tersebut dihitung dari rata-rata harian dalam satu masa laporan untuk periode dua masa laporan sebelumnya. Sedangkan dana pihak ketiga yang dimaksud adalah dalam bentuk berikut :
  • Giro Wadiah;
  • Tabungan mudharabah;
  • Deposito investasi mudharabah; dan
  • Kewajiban lainnya.
Bank Indonesia mengenakan denda terhadap kesalahan dan keterlambatan penyampaian laporan mingguan yang digunakan untuk menentukan GWM. Bank yang melakukan pelanggaran GWM juga terkena sanksi.

Artikel terkait: Instrumen Bank Sentral Indonesia dalam Mengelola Bank Syariah

2). Sertifikat Investasi Mudharabah antar Bank Syariah (Sertifikat IMA): yaitu instrumen yang digunakan oleh bank-bank syariah yang mengalami kelebihan dana untuk mendapatkan keuntungan. Di lain pihak digunakan sebagai sarana penyedia dana jangka pendek bagi bank-bank syariah yang mengalami kekurangan dana.

3). Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI): yaitu instrumen Bank Indonesia sesuai dengan syariah islam yang digunakan dalam OMO (Open Market Operation). SWBI juga dapat digunakan oleh bank-bank syariah yang kelebihan likuiditas sebagai sarana penitipan dana jangka pendek.

Dengan berkembangnya bank syariah maka sudah menjadi sebuah kewajiban bagi bank sentral untuk melakukan pengendalian moneter yang lebih luas dengan turut menyertakan atau melalui bank-bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Supaya operasi pasar terbuka berdasarkan prinsip syariah dapat dilaksanakan, maka Bank Indonesia selaku otoritas moneter tertinggi di Indonesia kemudian menciptakan suatu piranti yang sesuai dengan prinsip syariah dalam bentuk Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) yang dapat pula menjadi sarana penitipan dana jangka pendek oleh Bank yang mengalami kelebihan likuiditas.

Dalam operasionalnya, SWBI mempunyai nilai nominal minimum RP 500 juta dengan jangka waktu dinyatakan dalam hari (misalnya: 7 hari,14 hari, 30 hari). Pembayaran dan pelunasan SWBI dilakukan melalui debet/kredit rekening giro bank Indonesia. Jika jatuh tempo, dana akan dikembalikan bersama bonus yang ditentukan berdasarkan parameter Sertifikat IMA.

Sistem Operasional Bank Dengan Dual Banking System

Kebijakan pokok yang melandasi system operasioanal dual banking system adalah:
  1. Bahwa kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah berbeda sama sekali dengan kegiatan usaha secara konvensional. Oleh karena itu kegiatan usaha berdaarkan prinsip syariah hanya diselenggarakan secara terpisah dari unit/ kantor cabang lainnya.
  2. Bank syariah atau unit usaha syariah hanya boleh menginvestasikan dananya pada bank syariah atau unit usaha syariah .Sedangkan bank atau unit usaha konvensional diperkenankan menginvestasikan dana nya pada bank syariah atau unit syariah . Bank atau unit usaha konvensional  tidak diperkenankan mengelola dana-dana yang berasal dari bank syariah atau unit usaha cabang
Sebagai otoritas moneter Bank Indonesia bertugas membantu pemerintah dalam mengatur, menjaga dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Dalam melaksanakan tugasnya, BI menggunakan beberapa piranti moneter yang terdiri dari Giro Wajib Minimum (Reserve Requirement), Fasilitas Diskonto, Himbauan Moral dan Operasi Pasar Terbuka. Dalam Operasi Pasar Terbuka BI dapat melakukan transaksi jual beli surat berharga termasuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
  1. Giro Wajib Minimun (reserve requirement): yaitu simpanan minimum bank-bank umum dalam bentuk giro pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI berdasarkan persentase tertentu dari dana pihak ketiga. GWM adalah kewajiban bank dalam rangka mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip kehati-hatian perbankan (prudential bank) serta berperan sebagai instrumen moneter yang berfungsi mengendalikan jumlah peredaran uang. Besaran GWM adalah 5% dari dana pihak ketiga yang berbentuk IDR (rupiah) dan 3% dari dana pihak ketiga yang berbentuk mata uang asing. Jumlah tersebut dihitung dari rata-rata harian dalam satu masa laporan untuk periode dua masa laporan sebelumnya.
  2. Himbauan Moral (moral suassion): yaitu instrumrn moneter berupa himbauan yang ditujukan kepada masyarakat untuk melancarkan kebijakan-kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia. Bentuk dari moral suassion ini dapat berupa himbauan pada media cetak maupun media elektronik
  3. Operasi Pasar Terbuka (open market operation) adalah salah satu instrumen yang dijalankan oleh bank sentral dengan tujuan untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Salah satu bentuknya ialah adanya Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diperjualbelikan di masyarakat, keyika bank sentaral berkeinginan untuk menurunkan jumlah uang yang beredar di masyarkat maka BI selaku bank sentral akan menjul SBI dan sebaliknya terjadi jika BI ingin menambah uang yang beredar.


Alhamdulilah cukup sekian pembahasan kali ini tentang Bank Indonesia Dalam Mengelola Bank syariah. Semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.

Jul 30, 2016

Pengertian Sumber Dana Yang Diperoleh Bank Syariah

Sumber Dana Yang Diperoleh Bank Syariah

Dalam buku "Manajemen Perbankan" tahun 2000, Kasmir mendefinisikan sumber dana bank sebagai usaha bank dalam menghimpun dana dari masyarakat. Menurutnya, perolehan dana ini tergantung dari bank itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Kemudian untuk membiayai operasinya, dana dapat pula diperoleh dari modal sendiri yaitu dengan mengeluarkan atau menjual saham. Perolehan dana disesuaikan pula dengan tujuan dari penggunaan dana tersebut. Pemilihan sumber dana akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung. Oleh karena itu pemilihan sumber dana harus dilakukan secara tepat.

Jika tujuan perolehan dana untuk kegiatan sehari-hari, jelas berbeda sumbernya, dengan jika bank hendak melakukan investasi baru atau untuk melakukan perluasan suatu usaha. Kebutuhan dana untuk kegiatan utama bank diperoleh dalam berbagai simpanan, sedangkan jika kebutuhan dana digunakan untuk investasi baru atau perluasan usaha maka diperoleh dari modal sendiri.

Sumber Dana Yang Diperoleh Bank Syariah

Secara garis besar sumber dana bank syariah dapat diperoleh dari:
  1. Dana dari bank itu sendiri  (Dana Pihak Pertama)
  2. Dana dari lembaga lainnya  (Dana Pihak Kedua)
  3. Dana dari masyarakat luas  (Dana Pihak Ketiga)
Dana dari bank itu sendiri (Dana Pihak Pertama)

Dana pihak pertama maksudnya adalah dana yang diperoleh dari dalam bank. Perolehan dana ini biasanya digunakan apabila bank mengalami kesulitan untuk memperoleh dana dari luar.
Salah satu jenis dana pihak petama adalah modal setor dari para pemegang sahamnya. Selain itu dana pihak pertama dapat pula berupa cadangan laba, atau laba yang belum dibagi.

 Keuntungan dari sumber dana pihak pertama adalah imbalan (bagi hasil) yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan jika meminjam ke lembaga lain. Keuntungan lainnya yaitu mudah untuk memperoleh dana yang diinginkan. Sedangkan kerugiannya adalah untuk jumlah dana yang relatif besar harus melalui berbagai prosedur yang relaif lama. Kemudian perlu diingat bahwa penggunaan dana sendiri harus diseimbangkan dengan dana pinjaman sehingga rasio penggunaan dana pinjaman dan dana sendiri dapat dioptimalkan sedemikian rupa.

Dana dari Lembaga Lainnya  (Dana Pihak Kedua) 

Dalam prakteknya sumber dana ini merupakan tambahan jika bank mengalami kesulitan dalam pencarian sumber dana pihak pertama maupun pihak ketiga. Pencarian dari sumber dana ini relatif lebih mahal dan sifatnya hanya sementara waktu saja. Kemudian dana dari sumber ini digunakan untuk membiayai atau membayar transaksi transaksi tertentu.

Dana dari Masyarakat Luas  (Dana Pihak Ketiga)

Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Pencarian dana dari sumber ini relatif paling mudah jika dibandingkan dengan sumber dana yang lainnya.

Untuk mempeoleh dana dari masyarakat luas, bank syariah dapat menggunakan tiga macam jenis simpanan yaitu : giro, tabungan dan deposito.
  • Giro Syariah
Secara umum, yang dimaksud dengan giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah bayar lainnya atau dengan pemindahbukuan (Undang-Undang RI No.10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 1992 tentang Pebankan).  Adapun yang dimaksud dengan giro syariah menurut Dewan Syariah Nasional yaitu giro yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
  • Tabungan Syariah
Disamping giro, produk perbankan syariah lainnya yang termasuk produk penghimpunan dana (funding) adalah tabungan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
  • Deposito Syariah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.

Adapun yang dimaksud dengan deposito syariah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah.

Dalam hal ini bank syariah betindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul maal (pemilik dana). Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank syariah dapat melakukan berbagaii macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak ketiga.

Baca juga: Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

Alhamdulillah cukup sekian pembahasan kali ini tentang Sumber Dana Yang Diperoleh Bank Syariah. Semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.
Instrumen Bank Sentral Indonesia dalam Mengelola Bank Syariah

Instrumen Bank Sentral Indonesia Mengelola Bank Syariah

Peraturan perbankan syariah tahun 1998, memungkinkan berkembangnya perbankan syariah dengan cepat. Terjadi peningkatan jumlah cabang syariah, baik dari bank umum yang berdasarkan syariah maupun divisi syariah bank umum konvensional. Meningkatnya kemampuan menyerap dana masyarakat terlihat dari dana simpanan yang tercantum di neraca bank-bank syariah tersebut. Hal tersebut mengharuskan Bnak Indonesia, sebagai bank sentral, lebih menaruh perhatian dan lebih berhati-hati dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap bank-bank umum, tanpa mengganggu momentum pertumbuhan bank-bank syariah tersebut.

Instrumen Bank Sentral Indonesia Mengelola Bank Syariah

Terhadap bank-bank yang berdasarkan syariah islam, BI menjalankan fungsinya sebagai bank sentral dengan instrumen-instrumen sebagai berikut (Karim, 2002: 203-204):

1). Giro Wajib Minimum (GWM): Biasa dinamakan juga statory reserve requirement, adalah simpanan minimum bank-bank umum dalam bentuk giro pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI berdasarkan persentase tertentu dari dana pihak ketiga. GWM adalah kewajiban bank dalam rangka mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip kehati-hatian perbankan (prudential bank) serta berperan sebagai instrumen moneter yang berfungsi mengendalikan jumlah peredaran uang.
Besaran GWM adalah 5% dari dana pihak ketiga yang berbentuk IDR (rupiah) dan 3% dari dana pihak ketiga yang berbentuk mata uang asing. Jumlah tersebut dihitung dari rata-rata harian dalam satu masa laporan untuk periode dua masa laporan sebelumnya. Sedangkan dana pihak ketiga yang dimaksud adalah dalam bentuk berikut :

  1. Giro Wadiah;
  2. Tabungan mudharabah;
  3. Deposito investasi mudharabah; dan
  4. Kewajiban lainnya.

Dana pihak ketiga dalam IDR tidak termasuk dana yang diterima oleh bank Indonesia dan BPR. Sedangkan dana pihak ketiga dalam mata uang asing meliputi kewajiban dalam mata uang asing kepada pihak ketiga, termasuk bank dan Bank Indonesia yang terdiri atas :

  • Giro Wadiah;
  • Deposito investasi mudharabah; dan
  • Kewajiban lainnya.

Bank Indonesia mengenakan denda terhadap kesalahan dan keterlambatan penyampaian laporan mingguan yang digunakan untuk menentukan GWM. Bank yang melakukan pelanggaran GWM juga terkena sanksi.

2). Sertifikat Investasi Mudharabah antar Bank Syariah (Sertifikat IMA): yaitu instrumen yang digunakan oleh bank-bank syariah yang mengalami kelebihan dana untuk mendapatkan keuntungan. Di lain pihak digunakan sebagai sarana penyedia dana jangka pendek bagi bank-bank syariah yang mengalami kekurangan dana.

Sertifikat ini berjangka waktu 90 hari, diterbitkan oleh kantor pusat bank syariah dengan format dan ketentuan standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pemindahtanganan sertifikat IMA hanya dapat dilakukan oleh bank penanam dana pertama, sedangkan bank penanam dana kedua tidak diperkenankan memindahtangankan kepada pihak lain sampai berakhirnya jangka waktu. Pembayaran dilakukan oleh Bank syariah penerbit sebesar nilai nominal ditambah imbalan bagi hasil (yang dibayarkan awal bulan berikutnya dengan nota kredit melalui kliring, biyet giro Bank Indonesia, atau transfer elektronik).

Baca juga: Instrumen Moneter Bank Indonesia Dalam Mengelola Bank syariah

3.    Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI): yaitu instrumen Bank Indonesia sesuai dengan syariah islam yang digunakan dalam OMO (Open Market Operation). SWBI juga dapat digunakan oleh bank-bank syariah yang kelebihan likuiditas sebagai sarana penitipan dana jangka pendek.

Dalam operasionalnya, SWBI mempunyai nilai nominal minimum RP 500 juta dengan jangka waktu dinyatakan dalam hari (misalnya: 7 hari,14 hari, 30 hari). Pembayaran dan pelunasan SWBI dilakukan melalui debet/kredit rekening giro bank Indonesia. Jika jatuh tempo, dana akan dikembalikan bersama bonus yang ditentukan berdasarkan parameter Sertifikat IMA.

Alhamdulillah cukup sekian pembahasan kali ini tentang Bank Sentral Indonesia dalam Mengelola Bank Syariah. Semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.

Jul 29, 2016

Awal Perkembangan Perbankan Syariah di Berbagai Negara

Perbankan Syariah di Berbagai Negara

Pada Sidang Menteri Luar negeri Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi, Pakistan, Desember 1970, Mesir mengajukan sebuah proposal untuk mendirikan bank syariah . Proposal yang disebut Studi tentang Pendirian Bank Islam Internasional untuk Perdagangan dan Pembangunan (International Islamic bank for Trade and development) dan proposal pendirian Federasi Bank islam (Federation of Islamic Banks), dikaji para ahli dari depalan belas negara Islam .

Proposal tersebut pada intinya mengusulkan bahwa sistem keuangan berdasarkan bunga harus digantikan dengan suatu sistem kerjasama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian. Proposal tersebut diterima. Sidang menyetujui rencana pendirian Bank islam Internasional dan Federasi bank Islam.

Sebagai rekomendasi tambahan, proposal tersebut mengusulkan pembentukan perwakilan-perwakilan khusus, yaitu Asosiasi bank-Bank islam (Association of islamic Banks) sebagai badan konsultatif untuk masalah-masalah ekonomi dan perbankan syariah. Tugas badan ini diantaranya menyediakan bantuan teknis bagi negara-negara islam yang ingin mendirikan bank syariah dan lembaga keuangan syariah. Bentuk dukungan teknis tersebut dapat berupa pengiriman para ahli ke negara tersebut, penyebaran atau sosialisasi sistem perbankan islam, dan saling tukar informasi dan pengalaman antar negara Islam .

Perkembangan Perbankan Syariah

Pada sidang Menteri Luar Negeri OKI di Benghazi, Libya, Maret 1973, usulan tersebut kembali diagendakan. Sidang kemudian juga memutuskan agar OKI mempunyai bidang khusus menangani masalah ekonomi dan keuangan. Bulan Juli 1973, komite ahli yang mewakili negara-negara Islam penghasil minyak, bertemu di Jeddah untuk membicarakan pendirian bank Islam. Rancangan pendirian bank tersebut berupa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, dibahas pada pertemuan kedua, Mei 1974. Akhirnya rancangan pendirian Islamic Development Bank (IDB) dengan modal awal 2 milyar dinar (atau 2 miliar Special Drawing Right) disetujui dan seluruh anggota OKI menjadi anggota IDB.

Pada tahun-tahun awal beroperasinya, IDB mengalami banyak hambatan karena masalah politik. Meskipun demikian, jumlah anggotanya makinmeningkat, dari 22 negara menjadi 43 negara. IDB juga terbukti mampu memainkan peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan negara-negara Islam untuk pembangunan. Bank ini memberikan pinjaman bebas bunga untuk proyek infrastruktur dan pembiayaan kepada negara anggota berdasarkan partisipasi modal negara tersbut. Dan yang tidak dibutuhkan dengan segera digunakan bagi perdagangan luar negeri jangka panjang dengan menggunakan sistem murabahah dan ijarah (antonio,2001:21).

IDB juga membantu mendirikan bank-bank Islam di berbagai negara. Untuk pengembangan sistem ekonomi syariah, institusi ini membangun sebuah institut riset dan pelatihan untuk pegembangan penelitian dan pelatihan ekonomi islam, baik dalam bidang perbankan maupun keuangan secraa umum. Lembaga ini disingkat IRTI (Islamic Research and Training Institute) .

Pendirian IDB telah memotivasi banyak negara Islam di berbagai negara untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Untuk itu, komite ahli IDB pun bekerja keras untuk menyiapkan panduan tentang pendirian, peraturan, dan pengawasan bank syariah. Kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada akhir periode 1970-an and awal dekade 1980-an, bank-bank syariah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, serta Turki.

Artikel terkait: Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

Secara garis besar, lembaga-lembaga tersebut dapat dimasukkan ke dalam dua kategori. Pertama, bank islam komersial (Islamic Commercial Bank). Kedua, lembaga investasi dalam bentuk international holding companies.

Bank-bank yang masuk kategori pertama diantaranya :
  1. Faisal Islamic Bank (di Mesir dan Sudan)
  2. Kuwait Finance House,
  3. Dubai islamic bank,
  4. Jordan Islamic Bank for Finance and Investment
  5. Bahrain Islamic Bank
  6. Islamic International Bank for Investment and Development (Mesir).
Adapun yang masuk kategori kedua:
  1. Daar al-Maal al-Islami (Jenewa),
  2. Islamic Investment Company of the Gulf
  3. Islamic Investment Company (Bahama)
  4. Islamic Investment Company (Sudan)
  5. Bahrain Islamic Investment Bank (Manama)
  6. Islamic Investment House (Amman)
Pakistan

Pakistan merupakan pelopor di bidang perbankan syariah. Pada awal Juli 1979, sistem bunga dihapuskan dari operasional tiga institusi: National Investment (Unit Trust), House Building Finance Corporation (Pembiayaan sektor perumahan), dan Mutual Funds of The Investment Corporation of Pakistan (kerja sama investasi). Pada 1979-80, pemerintah mensosialisasikan skema pinjaman tanpa bunga kepada petani dan nelayan.

Pada tahun 1981, seiring dengan diberlakukannya Undang-Undang Perusahaan Mudharabah dan Murabahah, mulailah beroperasi tujuh ribu cabang bank komersial di seluruh Pakistan dengan menggunakan sistem bagi hasil. Pada awal tahun 1985, seluruh sistem perbankan pakistan dikonversi dengan sistem yang baru, yaitu sistem perbankan syariah.

Iran

Ide pengembangan perbankan syariah di Iran sesungguhnya bermula sesaat sejak revolusi Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini pada tahun 1979, sedangkan perkembangan dalam arti riil baru dimulai sejak Januari tahun 1984 setelah dikeluarkannya undang-undang yang disetujui pemerintah pada Agustus 1983. Islamisasi sistem perbankan Iran ditandai dengan nasionalisasi sepuruh industri perbankan yang dikelompokkan menjadi dua kelompok besar (1) perbankan komersial, (2) lembaga pembiayaan khusus. Dengan demikian, sejak dikeluarkannya Undang-Undang Perbankan islam (1983). Seluruh sistem perbankan di Iran otomatis berjalan sesuai syariah di bawah kontrol penuh pemerintah. (Antonio,2001:24)

Malaysia

Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) merupakan bank syariah pertama di Asia Tenggara. Bank ini didirikan pada tahun 1983 dengan 30 persen modal merupakan milik pemerintah federal. Hingga akhir 1999, BIMB telah memiliki lebih dari tujuh puluh cabang yang tersebar hampir di setiap negara bagian dan kota-kota Malaysia.

Sejak beberapa tahun yang lalu, BIMB telah tercatat sebagai listed-public company dan mayoritas sahamnya dikuasai oleh Lembaga Urusan dan Tabung Haji. Pada tahun 1999, di samping BIMB telah hadir satu bank syariah baru dengan nama Bank Bumi Putera Muamalah. Bank ini merupakan anak perusahaan dari bank Bumi Putera yang baru saja melakukan merger dengan Bank of Commerce.

Di malaysia, di samping full pledge Islamic Banking, pemerintah Malaysia memperkenankan juga sistem Islamic window yang memberikan layanan syariah pada bank konvensional.

Mesir

Bank syariah pertama yang didirikan di Mesir adalah Faisal Islamic Bank. Bank ini mulai beroperasi pada bulan Maret 1978 dan berhasil membukukan hasil mengesankan dengan total aset sekitar 2 milyar dolar AS pada 1996 dan tingkat keuntungan sekitar 106 juta dolar AS. Selain Faisal Islamic Bank terdapat bank lain, yaitu Islamic International Bank for Investment and Development yang beroperasi dengan menggunakna instrumen keuangan Islam dan menyediakan jaringan yang luas. Bank ini beroperasi, baik sebagai bank investasi (investment bank), bank perdagangan (merchant bank), maupun bank komersial (commercial bank).

Siprus

Faisal Islamic Bank of Kibis (Siprus) mulai beroperasi pada Maret 1983 dan mendirikan faisal Islamic Investment Corporation yang memiliki 2 cabang di Siprus dan satu cabang di istambul. Dalam sepuluh bulan awal operasinya, bank tersebut telah melakukan pembiayaan dengan skema murabahah senilai sekitar TL 450 juta (TL atau Turkey Lira, mata uang Turki).

Bank ini juga melaksanakan pembiayaan dengan skema musyarakah dan mudharabah, dengan tingkat keuntungan yang bersaing dengan bank nonsyariah. Kehadiran bank islam di Siprus telah menggerakkan masyarakat untuk menabung. Bank ini beroperasi dengan mendatangi desa-desa, pabrik, dan sekolah dengan menggunakan kantor kas (mobil) keliling untuk mengumpulkan tabungan masyarakat. Selain kegiatan-kegiatan di atas, mereka juga mengelola dana-dana lainnya seperti al-qardhul hasan dan zakat

Kuwait

Kuwait Finance House didirikan pada tahun 1977 dan sejak awal beroperasi dengan sistem tanpa bunga. Institusi ini memiliki puluhan cabang di Kuwait dan telah menunjukkan perkembangan yang cepat. Selama dua tahun saja, yaitu 1980 hingga 1982, dana masyarakat yang terkumpul meningkat dari sekitar KD 149 juta menjadi KD 474 juta. Pada akhir tahun 1985, total aset mencapai KD 803 juta dan tingkat keuntungan bersih mencapai KD 17 juta (satu Dinar Kuwait ekuivalen dengan 4 hingga 5 dolar US)(Antonio, 2001:23)

Bahrain

Bahrain merupakan off-shore banking heaven terbesar di Timur Tengah. Di negeri yang hanya berpenduduk tidak lebih dari 660.000 jiwa (per Desember 1999) tumbuh sekitar 220 local dan off-shore banks. Tidak kurang dari 22 di antaranya beroperasi berdasarkan syariah. Diantara bank-bank yang beroperasi secara syariah tersebut adalah Citi Islamic Bank of Bahrain (anak perusahaan Citi Corp. N.A.), Faysal Islamic Bank of Bahrain, dan al-Barakah Bank.(Antonio,2001:23)

Uni Emirat Arab

Dubai Islamic Bank merupakan salah satu pelopor perkembangan bank syariah. Didirikan pada tahun 1975. Investasinya meliputi bidang perumahan, proyek-proyek industri, dan aktivitas komersial. Selama beberapa tahun, para nasabahnya telah menerima keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan bank konvensional.

Turki

Sebagai negara yang berideologi sekuler, Turki termasuk negeri yang cukup awal memiliki perbankan syariah. Pada tahun 1984, pemerintah Turki memberikan izin kepada Daar al-Maal al-Islami (DMI) untuk mendirikan bank yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil. Menurut ketentuan bank sentral Turki, bank syariah diatur dalam satu yuridiksi khusus. Setelah DMI berdiri, pada bulan Desember 1984 didirikan pula Faisal Finance Institution dan mulai beroperasi pada bulan April 1985. Disamping dua lembaga tersebut Turki memiliki ratusan-jika tidak ribuan-lembaga wakaf (waqfi organiyasyonu) yang memberikan fasilitas pinjaman dan bantuan kepada masyarakat(Antonio,2001:25).

Baca juga: Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

Sekian pembahasan kali ini tentang Perbankan Syariah di Berbagai Negara. Saya harap artikel ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.
Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

Produk-Produk Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

Islam telah mengajarkan kebaikan dalam segala hal baik itu urusan kecil maupun urusan yang besar. Tentu dalam hal ini Islam juga mengatur dalam hal keuangan pada mebahasan ini salah satunya yaitu Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) sebagai lembaga keuangan syariah. 

Pengertian Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Istilah BMT sebenarnya dapat dipilah sebagai Baitul Maal (BM) dan Baitul Tamwil (BT). Menurut fungsinya, BM bertugas menghimpun, mengelola dan menyalurkan dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) sebagai bagian yang menitikberatkan pada aspek sosial. Sementara, BT merupakan lembaga komersial dengan pendanaan dari pihak ke tiga, bisa berupa pinjaman atau investasi.

Produk-Produk Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)

(Hertanto Widodo, Ak., dkk,1999:36) Arti kata Baitul Tamwil (BT) dari sudut etimologi adalah tempat pengembangan harta/kekayaan. Dari sudut ekonomi Baitul Tamwil (BT) adalah Lembaga Keuangan Islam yang usaha pokoknya menghimpun dana dari pihak lain (anggota/deposan) dan menyalurkannya kepada yang memerlukan melalui pembiayaan (kredit/pinjaman) untuk usaha produktif dan investasi dengan sistem syariah. (Brosur Lembaga Keuangan Islam BTM Ta’awun Banjarmasin).
Adapun produk-produk Lembaga Keuangan Syariah BMT adalah sebagai berikut:

Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah adalah salah satu jenis pembiayaan untuk usaha atau proyek (dapat disejajarkan dengan instrumen pembiayaan obligasi / quasi equity seperti obligasi konversi). Pengusaha proyek adalah pemegang amanah terhadap modal yang diterima dari pemilik modal (venture capital company) di mana modal merupakan titipan/amanah dalam konsep wadiah yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Pengusaha saat melakukan proyek yang berkaitan dengan Al Mudharabah adalah wakil pemilik modal, dan jika pengusaha memperoleh keuntungan maka pengusaha bertindak sebagai rekan pemilik modal, sehingga keuntungan tersebut harus dibagikan sesuai dengan prinsip musyarakah yang mengharuskan adanya bagi hasil yang adil antara rekan perkongsian.

Bagi hasil keuntungan ini dengan Nisbah (profit sharing ratio / perbandingan, misalnya 66% : 33% untuk pemilik modal : pengusaha) ditentukan pada kesepakatan/perjanjian awal. Modal disediakan seluruhnya oleh pemilik modal sampai suatu masa tertentu di mana modal tersebut dikembalikan secara utuh.
Al Mudharabah ini sering disebut trust financing yang hanya diberikan kepada pengusaha yang sudah teruji memegang amanah dengan baik, sehingga jika terjadi satu dan lain hal yang merugikan kedua belah pihak, hal itu tidak disebabkan oleh kesalahan pengelolaan si pengusaha sehingga risiko dapat ditanggung bersama secara adil. Dalam pembiayaan syariah, mudharabah mempunyai implementasi spesifik dalam bentuk quasi equity seperti obligasi konversi. Obligasi / Quasi equity dalam pasar modal syariah adalah suatu kontrak hutang yang tertulis, berjangka panjang, untuk membayar kembali seluruh nilai hutang pada tanggal tertentu dan membayar sejumlah keuntungan secara periodik menurut aqad atau suatu bukti penyertaan dana dalam jangka panjang (seperti modal) tetapi dapat ditarik kembali sesuai aqad. (Muhammad Gunawan Yasni, SE Ak., MM : 2004).

Mudharabah adalah akad yang dilakukan antara pemilik modal dengan mudharib (pengelola), dimana keuntungan disepakati diawal untuk dibagi bersama dan kerugian ditanggung oleh pemilik modal.

Mudharabah muqayyadah adalah jika shahibul maal memberikan batasan kepada mudharib mengenai tempat, cara, dan objek investasi. Mudharib dapat diperintahkan untuk : tidak mencampurkan dana shahibul maal dengan dana lainnya, tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan, tanpa jaminan atau mengharuskan mudharib untuk melakukan investasi sendiri tanpa melalui pihak ketiga. (Wiroso, 2002:89).
Contoh Perhitungan Praktis Pembiayaan Mudharabah

Seorang pedagang yang memerlukan modal untuk berdagang dapat mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil seperti mudharabah, di mana bank bertindak selaku shahibul maal (penyandang dana) dan nasabah selaku mudharib (pengelola). Caranya adalah dengan menghitung dulu perkiraan pendapatan yang akan diperoleh nasabah dari proyek yang bersangkutan. Misalnya, dari modal Rp30.000.000,00 diperoleh pendapatan Rp5.000.000,00 per bulan. Dari pendapatan ini harus disisihkan dahulu untuk tabungan pengembalian modal, misalnya Rp2.000.000,00. Selebihnya dibagi antara bank dengan nasabah dengan kesepakatan di muka, misalnya 60% untuk nasabah dan 40% untuk bank. (Muhammad Gunawan Yasni, SE Ak., MM : 2004).

Artikel terkait: Instrumen Bank Sentral Indonesia dalam Mengelola Bank Syariah

Pembiayaan Murabahah / Bai’ Bitsaman Ajil

Al Murabahah / BBA adalah pembiayaan untuk jual beli barang investasi atau bahan baku dimodal kerja (merupakan konsep penyederhanaan instrumen bagi hasil ke jual beli dengan risiko penangguhan pembayaran dan fluktuasi harga).
Al Murabahah yaitu kontrak jual beli dimana barang yang diperjualbelikan tersebut diserahkan segera, sedang harga (pokok dan margin keuntungan yang disepakati bersama) atas barang tersebut dibayar dikemudian hari secara sekaligus (lump sum deferred payment).
Bai’ Bitsaman Ajil yaitu kontrak murabahah dimana barang yang diper-jualbelikan tersebut diserahkan dengan segera, sedangkan harga barang tesebut dibayar dikemudian hari secara angsuran (Installment Defered Payment).

Murabahah / BBA adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Karakteristiknya adalah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Misalkan pihak venture capital company bernegosiasi dengan entitas usaha yang ingin membeli barang investasi dalam bentuk mesin, maka entitas usaha tersebut memesan kepada venture capital company untuk membeli mesin tersebut dari suatu produsen dengan kesepakatan/perjanjian bahwa entitas usaha akan membeli mesin tersebut dari venture capital company setelah mesin tersebut dimiliki oleh venture capital company dengan harga dan keuntungan yang pantas bagi venture capital company setelah memperhitungkan risiko penangguhan pembayaran dan fluktuasi harga. Perhitungan risiko penangguhan pembayaran dan fluktuasi harga dilakukan karena adanya tenggang waktu antara pengadaan dan pelunasan mesin yang dibiayai venture capital company. Instrumen pembiayaan ini, jika dibuat revolving, bisa juga diaplikasikan untuk pengadaan pupuk bagi pertanian ataupun bahan baku tertentu bagi pabrikan.

Murabahah/BBA As-Salam adalah pembiayaan untuk jual beli dibayar di depan produk-produk pertanian teridentifikasi dengan jelas bentuk, ukuran, kualitas dan kuantitasnya (merupakan konsep penyederhanaan instrumen bagi hasil ke jual beli dengan risiko penangguhan pembayaran dan fluktuasi harga).

Salam adalah proses jual beli di mana pembayaran dilakukan secara advance manakala penyerahan barang dilakukan kemudian. Yang harus ditekankan adalah bahwa pembayaran di muka ini harus diikuti dengan spesifikasi produk pertanian yang mutu (grade) serta jumlah (berat) sesuai dengan kesepakatan/perjanjian, bukan seperti ijon yang spesifikasinya bukan terkait langsung dengan produk tapi luas lahan produk di mana produk ditanam. Venture capital company dapat melakukan parallel salam untuk memperoleh keuntungan jual beli produk-produk pertanian. Misalkan venture capital company memberi permodalan kepada petani coklat sejumlah 2 M dengan kesepakatan/perjanjian bahwa petani coklat akan menyerahkan hasil coklatnya dengan mutu tertentu dan berat tertentu pada saat panen dan venture capital company juga melakukan kesepakatan/perjanjian menjual kepada satu pemakai produk coklat dengan harga yang menguntungkan. Petani coklat wajib menyerahkan produk coklat dengan spesifikasi produk dan waktu sesuai kesepakatan/perjanjian awal. (Muhammad Gunawan Yasni, SE Ak., MM : 2004).

Murabahah adalah jual beli dimana harga dan keuntungan disepakati antara penjual dan pembeli.
Aplikasi dalam lembaga keuangan : pada sisi asset, murabahah adalah dilakukan antara nasabah sebagai pembeli dan bank sebagai penjual, dengan harga dan keuntungan disepakati di awal.  Pada sisi liabilitas, murabahah diterapkan untuk deposito, yang dananya dikhususkan untuk pembiayaan murabahah saja.
Bai’ Salam adalah jual beli yang dilakukan dimana pembeli memberikan uang terlebih dahulu terhadap barang yang telah di sebutkan spesifikasinya dan diantarkan kemudian.

Aplikasi dalam lembaga keuangan : biasanya dipergunakan untuk produk-produk pertanian jangka pendek.  Dalam hal ini lembaga keuangan bertindak sebagai pembeli produk dam memberikan uangnya lebih dulu, sedangkan para nasabah menggunakannya sebagai modal untuk mengelola pertaniannya.  Karena pengantarannya berupa produk pertanian, biasanya lembaga keuangan melakukan parallel salam, yaitu mencari pembeli kedua sebelum saat panen tiba. Istishna adalah jual beli yang dilakukan dimana penjual membuat barang yang dipesan pembeli dengan modal sendiri.

Aplikasi dalam lembaga keuangan: lembaga keuangan bertindak sebagai penjual (mustashni ke-1) kepada bahir (pemilik proyek, pembeli) dan mensubkannya kepada kontraktor (mustashni ke-2).  (Zainul Arifin, 1999 : 200).

Murabahah adalah jual beli suatu barang dengan pembayaran ditangguhkan.  Maksudnya, pembeli baru membayar pada waktu jatuh tempo dengan harga jual sebesar  keuntungan yang disepakati.
Bai’ Bitsaman Ajil adalah jual beli barang dengan pembayaran cicilan.  Harga jual adalah harga pokok ditambah keuntungan yang disepakati. (Hertanto Widodo, Ak. M. Asmeldi Firman, Ak. Dwi Hariyadi, Ak. Rimon Domiyandra, Ak. 1999:49).

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.  Harga yang disepakati adalah harga jual, sedang harga beli harus diberitahukan.  Potongan dari pemasok merupakan hak pembeli.  (Wiroso, 2002:53).
Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan penangguhan pengiriman oleh muslam ilaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan segera sebelum muslam fiih diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. (Wiroso, 2002:73).

Istishna adalah setiap proses pembuatan barang, contoh : membuat rumah, kapal, jalan dan lain-lain.  Merupakan kontrak penjualan antara al-mustashni’ (pembeli akhir) dan as-shani’ (pemasok).  Pembeli menugasi produsen untuk menyediakan as-mashnu (barang pesanan), sesuai spesifkasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati.  Cara pembayaran dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan atau ditangguhkan selama jangka waktu tertentu.  (Wiroso, 2002:141).
Contoh Perhitungan Praktis Pembiayaan Murabahah.

Al-Murabahah 

Misalkan seorang nasabah ingin memiliki sebuah motor. Ia dapat datang ke bank syariah dan memohon agar bank membelikannya. Setelah diteliti dan dinyatakan dapat diberikan, bank membelikan motor tersebut dan diberikan kepada nasabah. Jika harga motor tersebut 4 juta rupiah dan bank ingin mendapat keuntungan Rp800.000,00 selama satu tahun, harga yang ditetapkan kepada nasabah seharga Rp4.800.000,00. Nasabah akan membayar pada saat jatuh tempo secara sekaligus sebesar  Rp 4.800.000,00.

Bai’ Bitsaman Ajil

Misalkan seorang nasabah ingin memiliki sebuah motor. Ia dapat datang ke bank syariah dan memohon agar bank membelikannya. Setelah diteliti dan dinyatakan dapat diberikan, bank membelikan motor tersebut dan diberikan kepada nasabah. Jika harga motor tersebut 4 juta rupiah dan bank ingin mendapat keuntungan Rp800.000,00 selama dua tahun, harga yang ditetapkan kepada nasabah seharga Rp4.800.000,00. Nasabah dapat mencicil pembayaran tersebut Rp200.000,00 per bulan.

Bai’ as-Salam 

Seorang petani memerlukan dana sekitar 2 juta rupiah untuk mengolah sawahnya seluas satu hektar.  Ia datang ke bank dan mengajukan permohonan dana untuk keperluan itu. Setelah diteliti dan dinyatakan dapat diberikan, bank melakukan akad bai’ as-salam dengan petani, di mana bank akan membeli gabah, misalnya, jenis IR dari petani untuk jangka waktu empat bulan sebanyak 2 ton dengan harga Rp2.000.000,00.  Pada saat jatuh tempo, petani harus menyetorkan gabah yang dimaksud kepada bank.  Jika bank tidak membutuhkan gabah untuk “keperluannya sendiri”, bank dapat menjualnya kepada pihak lain atau meminta petani mencarikan pembelinya dengan harga yang lebih tinggi, misalnya Rp1.200,00 per kilogram.  Dengan demikian, keuntungan bank dalam hal ini adalah Rp400.000 atau (Rp 200 x 2000 kg).

Bai’ al-Istishna’

Seseorang yang ingin membangun atau merenovasi rumah dapat mengajukan permohonan dana untuk keperluan itu dengan cara bai’ al-istishna’. Dalam akad bai’ al-istishna’, bank berlaku sebagai penjual yang menawarkan pembangunan/renovasi rumah. Bank lalu membeli/memberikan dana, misalnya Rp 30.000.000,00 secara bertahap.  Setelah rumah itu jadi, secara hukum Islam rumah/atau hasil renovasi rumah itu masih menjadi milik bank dan sampai tahap ini akad istishna’ sebenarnya telah selesai.  Karena bank tidak ingin memiliki rumah tersebut, bank menjualnya kepada nasabah dengan harga dan waktu yang disepakati, misalnya Rp 39.000.000,00 dengan jangka waktu pembayaran 3 tahun. Dengan demikian, bank mendapat keuntungan Rp9.000.000,00.  (Muhammad Gunawan Yasni, SE Ak., MM : 2004).

Baca juga: Pengertian Sumber Dana Yang Diperoleh Bank Syariah

Tabungan Wadiah

Bank menerima simpanan dari nasabah yang memerlukan jasa titipan dana dengan tingkat keleluasaan tertentu untuk menariknya kembali, berikut kemungkinan memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip Wadiah.  Bank memperoleh izin dari nasabah untuk mempergunakan dana tersebut selama mengendap di bank.  Nasabah dapat menarik sebagian atau seluruh saldo simpanannya sewaktu-waktu, dan bank menjamin pembayaran kembali simpanan mereka.  Semua keuntungan atas pemanfaatan dana tersebut adalah milik bank, tetapi bank dapat memberikan imbalan keuntungan yang berasal dari sebagian keuntungan bank yang dihasilkan dari penggunaan dana tersebut dari waktu ke waktu. (Zainul Arifin, 1999 : 33)

Wadi’ah adalah perjanjian antara pemilik barang dengan pihak yang akan menyimpan barang dengan tujuan menjaga keselamatan barang itu dari kehilangan, kemusnahan, kecurian dan sebagainya. Barang dimaksudkan bisa berupa uang, harta, dokumen, surat berharga dan lainnya. Barang tersebut harus dikembalikan kapan saja si penyimpan (pemilik) menghendakinya.

Wadi’ah yad al-amanah adalah titipan murni. Maksudnya pihak yang dititipi tidak boleh memanfaatkan barang yang dititipkan. Sebagai imbalan atas pemeliharaan barang titipan tersebut, pihak yang menerima titipan dapat meminta biaya penitipan

Wadi’ah yad al-dhamanah adalah titipan yang mengandung pengertian bahwa penerima titipan diperbolehkan memanfaatkan dan berhak mendapatkan keuntungan dari barang titipan tersebut. Keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan barang titipan itu dapat diberikan sebagian kepada pihak yang menitipkan, dengan syarat tidak diperjanjikan sebelumnya. Namun demikian, penerima titipan harus bertanggung jawab atas barang titipan bila terjadi kerusakan atau kehilangan. (Hertanto Widodo, Ak. M. Asmeldi Firman, Ak. Dwi Hariyadi, Ak. Rimon Domiyandra, Ak. 1999:50).

Wadia’ah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat nasabah yang bersangkutan menghendaki. Bank bertanggung jawab atas pegembalian dana titipan.

Giro Wadi’ah/Tabungan Wadi’ah adalah bersifat simpanan yang bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan, tidak ada imbalan yang diisyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. (Wiroso, 2002:146)
Formula-formula Bagi Hasil:


Tabungan Wadiah


Keterangan Variabel :

C1 = Saldo rata-rata tabungan..

C. TOTAL = Total saldo rata-rata tabungan.

D.TOTAL = Pendapatan yang dibagihasilkan.

E1 = Nisbah bagi hasil untuk nasabah penabung.

G1 = Bagihasil yang diterima nasabah.

tanggal 0 = Tanggal awal.

tanggal 1= Tanggal berikutnya.

tanggal(n-1)= Tanggal awal.

tanggal(n)= Tanggal berikutnya.

Contoh Perhitungan Praktis Tabungan Wadiah

Saldo rata-rata tabungan tuan Muhammad di Bank Syariah sebesar Rp. 1.000.000. Diasumsikan total saldo rata-rata dana tabungan Rp. 100.000.000, dan distribusi pendapatan dibagihasilkan Rp. 1.700.000, dengan nisbah bagi hasil 55% : 45% untuk Bank Syariah : Nasabah, maka pada akhir bulan nasabah akan memperoleh :

Contoh Perhitungan Praktis Tabungan Wadiah

Demikianlah pembahasan kali ini tentang Lembaga Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Semoga artikel ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.

Jul 27, 2016

Pengaruh Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Pengaruh Financial Leverage terhadap EPS
 
Earning per Share Menurut Mayo (2004: 192) "earning per share (EPS) is available to common stockholders divided by number of common share outstanding."

Menurut Garrison dan Noreen (2001:787), "Earning per share (EPS) adalah membagi earning after tax (EAT) yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan jumlah saham biasa yang beredar selama satu tahun." Sedangkan menurut Sundjaja dan Barlian (2002:123), "Earning per share (EPS) adalah jumlah uang yang dihasilkan oleh oleh setiap lembar saham biasa yang dimiliki oleh pemegang saham."

Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Dari definisi diatas, maka earning per share (EPS) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bagi para pemegang saham yang telah berpartisipasi dalam perusahaan, maka EPS menunjukkan laba per saham yang diperhatikan oleh para investor. EPS merupakan pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham biasa setiap lembar saham biasa yang dimilikinya atas keikutsertaannya dalam perusahaan. Semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk mendistribusikan pendapatan kepada pemegang saham, maka hal ini menunjukkan semakin besar keberhasilan usaha yang dijalankan oleh perusahaan tersebut.

Earning per share dapat dirumuskan sebagai berikut:

Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Penggunaan financial leverage bagi suatu perusahaan diharapkan mampu meningkatkan earning per share (EPS). Bagi perusahaan yang mampu menanggung beban bunga dari penggunaan hutang, maka penggunaan financial leverage dinilai dapat meningkatkan EPS. Sedangkan bagi yang tidak mampu menanggung beban tetapnya, maka dinilai tidak perlu menggunakan financial leverage.

Menurut Riyanto (2001:375), “penggunaan dana dengan beban tetap itu adalah dengan harapan untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa (EPS)”. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa penggunaan financial leverage dapat meningkatkan dan juga menurunkan besarnya EPS suatu perusahaan. Semua tergantung bagaimana perusahaan mampu mengelola hutangnya dan mampu mengatasi risiko yang muncul dari penggunaan hutang tersebut.

Pengaruh Financial Leverage terhadap ROE

Return on equity (ROE) menurut Garrison dan Noreen (2001:789) adalah, “membagi earning after tax (EAT) yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan rata-rata ekuitas yang dimiliki oleh pemegang saham biasa pada tahun tersebut.” Sedangkan menurut Sundjaja dan Barlian (2002:122), “ROE adalah ukuran pengembalian yang diperoleh para pemilik (baik pemegang saham biasa dan saham preferen) atas investasi mereka di perusahaan.” Menurut Sartono, (2001:124), “Return on equity adalah rasio yang mengukur kemampuan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan.”

Dengan demikian ROE menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengalokasikan laba bagi para pemegang saham atas modal yang telah ditanamkan oleh para pemegang saham tersebut. Rasio ini menunjukkan kemampuan modal pemilik yang ditanamkan oleh investor untuk menghasilkan laba bersih yang menjadi bagian dari pemilik. Semakin tinggi rasio ini, semakin tinggi keuntungan para investor karena semakin efisien modal yang ditanamkannya dalam perusahaan tersebut.

Return on equity (ROE) dapat dirumuskan sebagai berikut:

Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Menurut Keown, Scott, Martin, dan Petty (2000: 54) “financial leverage merupakan pembiayaan sebagian dari asset (harta) perusahaan dengan surat berharga dengan tingkat pengembalian yang nilainya tetap dengan harapan meningkatkan pendapatan para pemegang saham.”

Perusahaan yang menggunakan financial leverage berharap keuntungan yang akan diterima dari penggunaan dana kegiatan pembiayaan tersebut lebih besar dari beban tetap yang akan mereka tanggung dari penggunaan dana tersebut. Pada kondisi yang bagus atau stabil, penggunaan financial leverage dapat memberikan pengaruh positif berupa peningkatan ROE.

Baca juga: Pengertian Financial Risk, Leverage, Operating Leverage, Financial Leverage

Hal ini dikarenakan tingkat pengembalian terhadap laba operasi perusahaan lebih besar dari pada beban tetapnya. Sedangkan penggunaan financial leverage dapat memberikan pengaruh negatif berupa penurunan ROE, bila hal tersebut digunakan pada kondisi ekonomi yang kurang stabil. Pengaruh negatif ini disebabkan tingkat pengembalian investasi terhadap laba perusahaan kecil dan ditambah beban bungan yang harus dibayar, maka penggunaan financial leverage dapat menimbulkan risiko keuangan perusahaan.

Demikian pembahasan kali ini tentang Pengaruh Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity. Semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.
Pengertian Financial Risk, Leverage, Operating Leverage, Financial Leverage

Financial Risk, Leverage, Operating Leverage, Financial Leverage

Setiap perusahaan memerlukan modal dalam menjalankan usahanya. Modal bagi perusahaan bisa didapatkan melalui dua sumber modal, yaitu sumber intern dan sumber ekstern. Modal terdiri dari modal asing dan modal sendiri. Yang termasuk modal asing adalah hutang jangka pendek, hutang jangka menengah, dan hutang jangka panjang. Modal sendiri terdiri dari modal saham dan laba ditahan.

Salah satu cara untuk meningkatkan modal perusahaan adalah dengan penggunaan financial leverage. Financial leverage merupakan penggunaan hutang atau tambahan pembiyaan yang mempunyai beban tetap berupa beban bunga dan pokok pinjaman yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan penggunaan financial leverage diharapkan perusahaan dapat meningkatkan pendapatannya.
Dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh perusahaan dengan menggunakan financial leverage, maka earning per share (EPS) dan return on equity (ROE) perusahaan akan dapat meningkat. Dengan meningkatnya ROE dan EPS perusahaan akan dapat menarik perhatian para investor untuk membeli saham dari perusahaan tersebut dan hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan.


Financial Risk, Leverage, Operating Leverage, Financial Leverage

Risiko Keuangan (Financial Risk) 


Risiko keuangan menurut Brigham dan Houston (2006:17) adalah “tambahan risiko yang dibebankan kepada para pemegang saham biasa sebagai hasil dari keputusan untuk mendapatkan pendanaan melalui utang.” Risiko keuangan diakibatkan oleh transaksi-transaksi keuangan. Secara konseptual, pemegang saham akan menghadapi sejumlah risiko yang inheren pada operasi perusahaan. Jika sebuah perusahaan menggunakan utang, maka hal ini akan mengkonsentrasikan risiko bisnis pada pemegang saham biasa.
Leverage 

Merupakan penggunaan aset dalam sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap (beban bunga) dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham. Dengan kata lain, leverage adalah penggunaan dana yang menuntut peningkatan untuk membayar biaya tetap. 

Operating Leverage
 
Menurut Brigham dan Houston (2006:12), “operating leverage adalah tingkat sampai sejauh mana biaya-biaya tetap digunakan di dalam operasi sebuah perusahaan.” Operating leverage juga dapat diartikan sebagai penggunaan dana dengan biaya tetap dengan harapan pendapatan yang dihasilkan dari penggunaan dana tersebut dapat menutup biaya tetap dan biaya variabel.

Artikel terkait: Pengaruh Financial Leverage Terhadap Earning Per Share Dan Return On Equity

Financial Leverage
 
Keputusan pembiayaan mencakup alternatif sumber dana yang akan digunakan perusahaan dalam menjalankan usahanya. Dari segi struktur pembiayaan, suatu perusahaan dikatakan menggunakan financial leverage jika perusahaan tersebut menggunakan pinjaman atau hutang sebagai salah satu sumber pembiayaan selain modal sendiri. Penggunaan dana tersebut menimbulkan biaya tetap yaitu beban bunga, yang harus di bayar tanpa memperdulikan tingkat laba perusahaan.

Menurut Brigham dan Houston (2006:17), “financial leverage adalah tingkat sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (utang dan saham preferen) digunakan dalam struktur modal sebuah perusahaan.

Menurut Garrison dan Noreen (2001:790), “financial leverage merupakan pemerolehan aktiva dengan dana yang diperoleh dari kreditur atau pemegang saham preferen dengan tingkat pengembalian tertentu.”

Sedangkan definisi menurut Riyanto (2001:375), “financial leverage adalah penggunaan dana dengan beban tetap dengan harapan untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa atau earning per share.” Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang menggunakan financial leverage berarti perusahaan memperoleh modal atau aktiva dengan dana yang berasal dari kreditur atau pemegang saham biasa dan preferen. Dana tersebut dapat berupa hutang yang harus dibayar sebesar pokok pinjaman dan bunganya. Selain itu, financial leverage merupakan penggunaan dana dengan beban tetap dengan harapan memperbesar pendapatan per lembar saham biasa atau earning per share (EPS) atau dengan kata lain, financial leverage menguntungkan atau tidak dapat dilihat pengaruhnya pada laba per lembar saham (earning per share).
Menurut Sartono (2001:263), “financial leverage adalah penggunaan sumber yang dimiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham.

Berdasarkan definisi tersebut, maka financial leverage mempunyai alasan untuk menggunakan dana dengan beban tetap adalah untuk meningkatkan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham. Penggunaan financial leverage yang semakin besar membawa dampak positif bila pendapatan yang diterima dari penggunaan dana tersebut lebih besar daripada bebannya keuangan yang dikeluarkan. Sedangkan dampak negatifnya penggunaan financial leverage yang semakin besar akan menyebabkan hutang semakin besar yang ditanggung perusahaan, yaitu beban tetap atau beban bunganya. Apabila perusahaan tidak memenuhi kewajibannya yang berupa beban bunganya, maka perusahaan akan mengalami kesulitan untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Financial leverage dapat dihitung dengan rasio hutang (debt ratio) sehingga financial leverage dapat dirumuskan sebagai berikut:
 
 


Sekian pembahasan kali ini tentang Financial Risk, Leverage, Operating Leverage, Financial Leverage. Semoga artikel kali ini akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.

Jul 26, 2016

Pengertian Modal Asing Dan Modal Sendiri Sebagai Pendanaan Perusahaan

Pengertian Modal Asing Dan Modal Sendiri

Modal sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk kelangsungan hidup suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan suatu perusahaan. Modal sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan usaha perusahaan. Modal sangat berperan sebagai sumber pendanaan perusahaan yang menggambarakan perusahaan dalam memenuhi dapat didanai oleh modal sendiri secara keseluruhan atau didanai dengan modal sendiri dan ditambah dengan modal berasal dari pinjaman.
Pengertian Modal menurut Warren, Reeve dan Philip (2005:5), "Modal atau ekuitas pemegang saham adalah jumlah total dari dua sumber utama ekuitas saham, yaitu modal disetor dan laba ditahan." 

Sedangkan definisi ekuitas menurut Mayo (2004:188), "A variety of debt instrument to tap the funds of investor who purchase debt securities, there are only two types of stock: preferred stock and common stock."

Definisi Modal Asing Dan Modal Sendiri

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan dapat memperoleh dana untuk menjalankan kegiatan usahanya dengan memperoleh dari modal disetor yang berupa saham biasa, saham preferen, dan laba ditahan yang berasal dari operasi perusahaan. 

Dari mana Sumber Modal

Untuk memenuhi kebutuhan modal suatu perusahaan dalam membiayai kegiatan operasionalnya dapat diperoleh dengan mencari sumber pembiayaan. Menurut Riyanto (2001:209) modal dapat dilihat dari asalnya, sumber modal terdiri:

1. Sumber Intern (Internal Sources)

Adalah modal yang dihasilkan dari dalam perusahaan. Sumber intern dapat berasal dari laba ditahan dan akumulasi penyusutan. Besarnya laba yang dimasukkan ke dalam cadangan atau ditahan, tergantung besarnya laba yang diperoleh selama periode tertentu dan tergantung kepada kebijakan dividen perusahaan tersebut. Sedangkan akumulasi penyusutan dapat dibentuk dari penyusutan, tiap tahunnya, tergantung metode penyusutan yang dipakai oleh perusahaan tersebut.

2. Sumber Ekstern (External Sources)

Adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan atau dana yang diperoleh dari para kreditur atau pemegang saham yang merupakan bagian dalam perusahaan. 

Artikel terkait: Pengertian Penanaman Modal Asing (PMA)

Apa saja Jenis-jenis Modal 

Sumber modal eksternal, terdiri dari Modal Asing dan Modal Sendiri :

1. Modal Asing
 
Menurut Riyanto (2001:227), “adalah modal berasal dari luar perusahaan yang sifatnya sementara di dalam perusahaan tersebut.” Modal tersebut merupakan “hutang” yang pada saatnya harus dibayar kembali. Modal asing atau hurang terbagi atas tiga golongan, yaitu:

a. Hutang Jangka Pendek (Short-term Debt) 

 Menurut Harnanto (2003:5), “hutang jangka pendek atau lancar adalah suatu kewajiban atau hutang yang terjadi dalam kaitannya dengan operasi normal perusahaan.” Hutang jangka pendek terdiri dari:

1) Hutang Dagang

 Menurut Brigham dan Houston (2006:207), “hutang dagang adalah hutang yang muncul akibat penjualan kredit dan dicatat sebagai piutang oleh pihak penjual dan utang oleh pihak pembeli.” Hutang dagang adalah salah satu kategori hutang jangka pendek terbesar, yang mencerminkan kurang lebih 40 persen dari kewajiban ancar di rata-rata perusahaan nonkeuangan. Hutang dagang adalah sumber pendanaan “spontan”, di dalam artian bahwa ia terjadi dari transaksi bisnis biasa.  

2) Hutang Wesel

Hutang wesel merupakan pengakuan hutang atau pernyataan tertulis untuk membayar sejumlah uang pada tanggal tertentu di kemudian hari. Hutang wesel dicatat dan disajikan di dalam neraca perusahaan. Hanya hutang wesel yang jatuh tempo dalam satu tahun atau kurang yang di golongkan sebagai kewajiban jangka pendek.

3) Hutang Jangka Panjang Jatuh Tempo dalam Periode Kini

Hutang jangka panjang jatuh tempo dalam periode kini merupakan bagian dari hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam tahun sekarang, sedangkan sisanya tetap dilaporkan sebagai hutang jangka panjang.

b. Hutang Jangka Menengah (Intermediate-term Debt) 

Menurut Riyanto (2001:227), “hutang jangka menengah adalah hutang yang jangka waktunya antara satu sampai sepuluh tahun.” Hutang jangka menengah terdiri dari:

1) Term Loan

Term loan merupakan kredit usaha dengan umur lebih dari satu tahun dan kurang dari 10 tahun. Pada umumnya, term loan dibayar kembali dengan angsuran tetap selama suatu periode tertentu. Term loan biasanya disediakan oleh commercial bank, insurance, pension funds, lembaga pembiayaan pemerintah, dan supplier perlengkapan. Menurut Sartono (2001:301), “keuntungan dari term loan adalah tidak segera jatuh tempo dan peminjam memberikan jaminan pembayaran secara periodik yang mencakup bunga dan pokok pinjaman.” 

2) Leasing

Menurut Sartono (2001:304), “leasing adalah suatu kontrak antara pemilik aktiva yang disebut lessor dengan pihak lain yang memanfaatkan aktiva tersebut untuk jangka waktu tertentu.” Sedangkan menurut Financial Accounting Standard Board (FASB-13), “leasing adalah suatu peranjian penyediaan barang-barang modal yang digunakan untuk suatu jangka waktu tertentu.

c. Hutang Jangka Panjang (Long-term Debt) 

Menurut Riyanto (2001:238), “Hutang jangka panjang adalah hutang yang ka waktunya lebih dari sepuluh tahun.” Sedangkan menurut Skousen dan Stice (2004:658), “hutang jangka panjang adalah obligasi yang tidak diharapkan untuk dibayar tunai dalam jangka satu tahun.” Hutang jangka panjang pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut diperlukan jumlah yang besar. Adapun jenis hutang jangka panjang, yaitu:

1) Pinjaman Berjangka

Pinjaman berjangka (long-term) merupakan suatu perjanjian dimana peminjam setuju untuk melakukan pembayaran bunga dan pembayaran pokok pinjaman pada tanggal tertentu sesuai dengan perjanjian kepada pihak yang meminjamkan. Pemberian pinjaman berjangka antara lain dilakukan oleh bank komersial dan perusahaan asuransi.

2) Obligasi

Obligasi adalah instrumen (surat) utang yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan obligasi untuk membayar pemegang obligasi sejumlah nilai pinjaman beserta bunga pada saat jatuh tempo yang telah ditetapkan. Obligasi termasuk salah satu jenis efek. Namun, berbeda dengan saham, yang kepemilikannya menandakan pemilikan sebagian dari suatu perusahaan yang menerbitkan saham, obligasi menunjukkan utang dari penerbitnya. Dengan demikian, pemegang obligasi memiliki hak dan kedudukan sebagai kreditor dari penerbit obligasi. Obligasi merupakan instrumen utang jangka panjang. Pada umumnya diterbitkan dengan jangka waktu berkisar antara 5 sampai 10 tahun.

3) Hipotik

Hipotik merupakan pinjaman berjangka, dimana pemberi uang diberi hak hipotik terhadap suatu barang yang tidak bergerak. Apabila pihak peminjam (debitur) tidak memenuhi kewajibannya, barang tersebut dapat dijual dan dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutupi tagihannya. Menurut Sartono (2001:328), manfaat yang diperoleh dengan menggunakan hutang jangka panjang adalah:

a. Bunga yang dibayarkan merupakan pengurang pajak penghasilan.
b. Melalui financial leverge dimungkinkan laba per lembar saham akan meningkat.

Sedangkan kelemahan penggunaan hutang jangka panjang sebagai sumber dana
adalah:

a. Financial risk perusahaan meningkat sebagai akibat meningkatnya leverage.
b. Batasan yang disyaratkan kreditur seringkali menyulitkan manajer.

Baca juga: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Investasi Pasar Modal

2. Modal Sendiri 

Menurut Riyanto (2001:240), “adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan juga tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak terbatas.” Dengan kata lain, modal sendiri merupakan modal yang dihasilkan atau dibentuk di dalam perusahaan atau keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Modal sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas terdiri dari:

a. Modal Saham 

Saham adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu perusahaan. Pemilik saham akan mendapatkan hak untuk menerima sebagian pendapatan tetap atau dividen dari perusahaan serta kewajiban menanggung risiko kerugian yang diderita perusahaan. Orang yang memiliki sahham suatu perusahaan memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang dimilikinya. Semakin banyak persentase saham yang dimiliki, maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan.
Saham dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:

1) Saham Biasa (Common Stock)

Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:734), “saham biasa adalah jenis saham yang merupakan jenis saham dasar perusahaan, memungkinkan pemegang saham untuk memiliki suara dan jumlah kepemilikan tertentu dalam perusahaan.” Saham biasa adalah saham yang menempatkan pemegang sahamnya (pemiliknya) paling akhir (setelah pemegang saham preferen) dalam pembagian dividen sesuai dengan keadaan keuntungan yang dipeoleh perusahaan penerbitnya dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi setelah pemegang saham preferen. Saham biasa ini mempunyai harga yang nilainya ditetapkan oleh perusahaan yang menerbitkan saham.Menurut organisasi.org “saham biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang mempunyai fungsi sebagai bukti pemilikan suatu perusahaan dengan berbagai aspek aspek penting bagi perusahaan.” Menurut Agung Purnawan “saham biasa adalah saham dimana pemegang saham akan mendapatkan dividen pada akhir tahun pembukuan hanya jika perusahaan
mendapat laba.” Saham biasa mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
  • Mempunyai hak suara.
  • Selalu mendapat pembagian laba setiap tahunnya.
  • Dapat diperjual belikan.
  • Bila ingin menambah modal relatif lebih mudah menjualnya. 
Disamping itu, saham biasa juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
  • Kurang mendapat prioritas dalam pembagian laba.
  • Laba yang diterima tidak dapat diakumulasikan.
Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:874), dalam saham biasa terdapat
beberapa hak-hak dari para pemegang saham, antara lain:
  • Hak memberikan suara dalam pemilihan direksi dan menentukan kebijakan perusahaan.
  • Hak mempertahankan proporsi kepemilikan saham dalam perusahaan melalui pembelian saham yang baru diterbitkan oleh perusahaan.
2) Saham Preferen (Preferred Stock)

Saham preferen adalah saham yang para pemegang sahamnya mempunyai prioritas terlebih dahulu dalam pembagian atas asset atau kekayaan perusahaan, bila perusahaan (emiten) dilikuidasi. Pemegang saham ini juga mempunyai pioritas pembagian dividen dalam jumlah tertentu sebelum dibagikan pada pemegang saham
biasa sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan perusahaan penerbit.

Menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:876) “Saham preferen adalah pemegang saham preferen melepaskan berbagai hak kepemilikan guna mendapatkan beberapa perlindungan yang biasanya dinikmati oleh kreditor.” 

Menurut oragnisasi.org “saham preferen adalah saham yang pemiliknya akan memiliki hak lebih dibanding hak pemegang saham biasa“. Menurut Agug Purnawan “saham preferen adalah saham yang memiliki prioritas lebih tinggi dibanding saham biasa dalam pembagian dividen dan asset.” Dalam kepemilikan saham preferen menurut Skousen, Stice, dan Stice (2004:876), ada beberapa hak-hak yang dilepas oleh pemegang saham preferen, yaitu:
  • Hak suara.
  • Hak pembagian keuntungan Dividen yang diterima jumlahnya tetap, oleh karena itu, apabila kinerja perusahaan sangat baik, maka pemegang saham tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
Disamping hak-hak yang dilepas tersebut, menurut Dahlan Siamat (2004:268) pemegang saham preferen mempunyai beberapa hak istimewa, antara lain:
  • Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen (hak privileges).
  • Hak untuk mempengaruhi manajemen terutama dalam pencalonan pengurus.
  • Hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi, dan
  • Hak klaim terhadap kekayaan perusahaan.  
b. Laba Ditahan (Retained Earning) 

Laba ditahan merupakan penahanan keuntungan yang mempunyai tujuan, maka disebut dengan cadangan. Cadangan disini dimaksudkan sebagai cadangan yang dibentuk dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa tahun berjalan. Sedangkan penahanan keuntungan tersebut belum mempunyai tujuan tertentu, maka keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan.

Menurut Riyanto (2001:243): “Laba ditahan adalah keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan, dapat berupa sebagian dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditahan oleh perusahaan.” Dengan adanya keuntungan akan memperbesar laba ditahan yang akan berarti akan memperbesar modal sendiri. Sebaliknya, kalau rugi maka akan memerkecil modal sendiri. Besarnya laba yang dimasukkan ke dalam laba ditahan ini tergantung pada besarnya laba yang diperoleh selama periode tertentu. Meskipun keuntungan yang diperoleh selama periode tertentu besar karena perusahaan mengambil kebijakan bahwa sebagian besar keuntungan akan jadi dividen, maka laba ditahan akan kecil.  

Sekian pembahasan kali ini tentang Pengertian Modal Asing Dan Modal. Semoga artikel ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.

Jul 25, 2016

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Investasi Pasar Modal

Faktor-Faktor Keberhasilan Investasi Pasar Modal

Suad Husnan dalam bukunya “Teori Portfolio dan Analisis Sekuritas” (1998 : 3) mendefenisikan pasar modal sebagai berikut : “Secara formal, pasar modal dapat didefenisikan sebagai pasar untuk berbagai instrument keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik diterbitkan oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta.”


Faktor-Faktor Keberhasilan Investasi Pasar Modal

Fungsi Pasar Modal

Menurut E.A.Koetin (1997:96), Pasar modal yang didirikan di berbagai negara memiliki sepuluh fungsi sebagai berikut :
  1. Memberikan kesempatan pada perusahaan yang sehat dan prospektif.
  2. Memberikan alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang dapat diperhitungkan.
  3. Membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha dan kontrol sosial.
  4. Menegaskan bahwa pengelolaan perusahaan dengan iklim keterbukaan, mendorong pemanfaatan manajemen profesional.
  5. Manajemen profesional menghilangkan mayoritas kepemilikan.
  6. Menyediakan leading indikator bagi trend ekonomi negara.
  7. Menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha, sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana yang optimal.
  8. Menyebarkan pemilikan sampai lapisan masyarakat menengah.
  9. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme, serta menciptakan iklim berusaha yang sehat.
  10. Menciptakan lapangan kerja dan profesi yang menarik.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pasar Modal

Suad Husnan (1998 : 8 - 9) menyatakan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pasar modal sebagai berikut :

a.    Supply sekuritas.
b.    Demand akan sekuritas.
c.    Kondisi politik dan ekonomi
d.    Hukum dan peraturan.
e.    Peran lembaga-lembaga pendukung pasar modal.

Efisiensi Pasar Modal

Pasar modal yang efisien didefenisikan sebagai pasar dengan harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Menurut FAMA (1970) menyajikan tiga macam bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk informasi, yaitu :

1. Weak Form Effeciency, adalah seluruh keadaan harga -harga sekuritas menggambarkan seluruh informasi yang terkandung pada harga sekuritas di masa lalu. Pada kondisi ini tidak seorang investor pun mampu memperoleh excess return dengan menggunakan trading rule yang didasarkan pada informasi harga atau return yang lalu. \
2. Semi Strong-Form Effeciency, adalah keadaan harga-harga sekuritas menggambarkan seluruh informasi yang dipublikasikan. Pada kondisi ini tidak ada seorang investor pun mampu memperoleh excess return dari trading rule yang didasarkan pada informasi yang dipublikasikan.

3. Strong-Form Effeciency, adalah keadaan dimana harga-harga sekuritas tidak hanya mencerminkan informasi yang dipublikasikan tetapi juga informasi yang tidak dipublikasikan. Dalam pasar bentuk ini, tidak ada investor yang dapat memperoleh excess return dengn menggunakan informasi apapun, baik informasi yang dipublikasikan maupun yang tidak, yang dikenal dengan insider information.

Risiko Investasi di Pasar Modal

Ada beberapa Risiko investasi dipasar modal yang perlu di perhatika terlebih dahulu agar dapat berjalan dengan semestinya. Pada perinsipnya investasi pasar modal ini semata-mata berkaitan dengan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga (price volatility). Resiko-resiko yang mungkin akan dijumpai oleh pelaku usaha dan bisnis adapun yang perlu diperhatikan oleh investor tersebut antara lain sebagai berikut :

a)Resiko daya beli (purchasing power risk)

Sifat investor pasar modal dalam menangani factor resiko dipasar modal ini terdiri atas dua, yaitu investor yang tidak menyukai resiko (risk averter) dan investor justru menyukai menantang resiko (risk averse) bagi investor kategori pertama ini akan mencari atau memilih jenis investasi yang akan memberikan keuntungan yang jumlahnya sekurang-kurangnya sama dengan investasi yang dilakkukan sebelumnya karena jenis ini tergolong investasi dengan dampak resiko yang sedikit.

b)Resiko bisnis (business risk)

Resiko bisnis adalah suatu resiko yang sering dijumpai oleh para pelaku usaha dan bisnis yang akan menurunnya kemampuan memperoleh laba atau keuntungan yang ada gilirannya akan mengurangi pula kemampuan perusahaan (emiten) membayar bunga atau deviden.

c)Resiko tingkat bunga (interest rate risk)

Naiknya tingkat bunga biasanya menekan harga jenis surat-surat berharga yang berpendapatan tetap termasuk harga-harga saham dari sini harga saham pun akan terpengaruh. Biasanya, kenaikan tingkat bunga berjalan tidak searah dengan harga-harga instrument pasar modal.

d)Resiko pasar(market risk)

Apabila pasar modal bergairah umumnya yang akan terjadi di hampir semua harga saham dibursa efek mengalami kenaikan yang signifikan dan sebaliknya jika pasar modal lesu dampaknya adalah penurunan dan melemahnya harga saham. Perubahan psikologi pasar dapat menyebabkan para pelaku usaha dan bisnis akan mendapatkan risiko yang terjadi pada harga surat-surat berharga anjlok terlepas dari adanya perubahan fundamental atas kemampuan perolehan laba atau keuntungan perusahaan.

e)Resiko likuiditas (liquidity risk)

Resiko ini berkaitan dengan kemampuan surat berharga untuk dapat segera diperjualbelikan dengan tanpa mengalami kerugian yang berarti.

Baca juga: Memahami Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Demikian untuk pembahasannya semoga artikel yang sedikit ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.
Memahami Klasifikasi Produk Dan Jenis Barang Pelanggan

Klasifikasi Produk Dan Jenis Barang Pelanggan

Apa itu sebuah Produk? yaitu kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk didalamnya kemasan, kualitas, warna, harga, merk  dan ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya yang memberikan nilai tambah pada perusahaan. Tujuan produk adalah untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan kepada konsumen.

klasifikasi produk dan barang konsumen

Klasifikasi produk dapat dilakukan atas berbagai macam sudut pandang. Berdasarkan berwujud tidaknya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu :

1.    Barang tidak tahan lama (nondurable goods)

Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari 1 tahun. Contohnya adalah sabun, minuman dan makanan ringan, kapur tulis, gula, dan garam. Oleh karena barang ini dikonsumsi dengan cepat (dalam waktu singkat) dan frekuensi pembeliannya sering terjadi, maka strategi yang paling tepat adalah menyediakannya di banyak lokasi, menerapkan mark-up yang kecil, dan mengiklankannya secara gencar untuk merangsang orang agar mencobanya dan sekaligus untuk membentuk preferensi.

2.    Barang tahan lama (durable goods)

Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya dapat bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah 1 tahun atau lebih). Contohnya antara lain adalah televisi, lemari es, mobil, komputer, dan lain-lain. Umumnya jenis barang ini membutuhkan personal selling dan pelayanan yang lebih banyak daripada barang tidak tahan lama, memberikan keuntungan yang lebih besar, dan membutuhkan jaminan atau garansi tertentu dari penjualnya.

3.    Jasa (services)

Jasa merupakan aktivitas, manfaat / kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Contohnya bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel, lembaga pendidikan, dan lain-lain (Kotler, 1997 : 54 ).

Selain itu, produk umumnya juga diklasifikasikan berdasarkan siapa pelanggannya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini, produk dapat dibedakan menjadi barang konsumen (consumer’s goods) dan barang industri (industrial’s goods).

Artikel terkait: Bagaimana Cara Menentukan Harga Pada Produk atau Jasa

Barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan pelanggan akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang pelanggan dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu:

1. Convinience goods

Convinience goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan pembeliannya. Contohnya antara lain rokok, sabun, pasta gigi, baterai, permen, dan surat kabar. Convinience goods sendiri masih dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :

a. Staples adalah barang yang dibeli konsumen secara reguler atau rutin,

misalnya sabun mandi dan pasta gigi.

b. Impulse goods merupakan barang yang dibeli tanpa perencanaan terlebih dahulu ataupun usaha-usaha mencarinya. Biasanya Impulse goods tersedia dan dipajang di banyak tempat yang tersebar, sehingga konsumen tidak perlu repot-repot mencarinya. Contohnya permen, coklat, majalah.

c. Emergency goods adalah barang yang dibeli bila suatu kebutuhan dirasa sangat mendesak, misalnya payung dan jas hujan di musim hujan.

2. Shopping goods

Shopping goods adalah barang-barang yang dalam proses pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen di antara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria perbandingan tersebut meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing barang. Contohnya alat-alat rumah tangga, pakaian, dan furniture. Shopping goods terdiri atas dua jenis, yaitu :

a. Homogeneous shopping goods merupakan barang-barang yang oleh konsumen dianggap serupa dalam hal kualitas tetapi cukup berbeda dalam harga. Dengan demikian konsumen berusaha mencari harga yang termurah dengan cara membandingkan harga di satu toko dengan toko lainnya. Contohnya adalah tape recorder, TV, dan mesin cuci.

b. Heterogeneous shopping goods adalah barang-barang yang aspek karakteristik atau ciri-cirinya (features) dianggap lebih penting oleh konsumen daripada aspek harganya. Dengan kata lain, konsumen mempersepsikannya berbeda dalam hal kualitas dan atribut. Contohnya perlengkapan rumah tangga, mebel, dan pakaian.

3. Specialty goods

Specialty goods adalah barang-barang yang memiliki karakteristik dan / atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya specialty goods terdiri atas barang-barang mewah dengan merek dan model spesifik, seperti mobil Lamborghini, kamera Nikon, dan lain-lain.

4. Unsought goods

Unsought goods merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya belum terpikirkan untuk membelinya. Ada dua jenis unsought goods, yaitu :

a. Regularly unsought goods adalah barang-barang yang sebetulnya sudah ada dan diketahui konsumen, tetapi tidak terpikirkan untuk membelinya. Contohnya ensiklopedia, asuransi jiwa, batu nisan, tanah kuburan.

b. New unsought goods adalah barang yang benar-benar baru dan sama sekali belum diketahui konsumen. Jenis barang ini merupakan hasil inovasi dan pengembangan produk baru, sehingga belum banyak konsumen yang mengetahuinya.

Sedangkan yang termasuk dalam klasifikasi barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (pelanggan antara / pelanggan bisnis) untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali (oleh produsen) ataupun untuk dijual kembali (oleh pedagang) tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi).

Baca juga: 4 Strategi Produk Dan Cara Menciptakan Peluang Produk

Barang industri dapat diklasifikasikan berdasarkan peranannya dalam proses produksi dan biaya relatif. Ada tiga kelompok barang industri yang dapat dibedakan (Kotler, 2000 : 397), yaitu Materials and parts, capital items, dan supplies and services.

Sekian pembahasan kali ini tentang Klasifikasi Produk Dan Jenis Barang Pelanggan. Semoga artikel tersebut memberikan informasi yang bermanfaat untuk Anda. Jika ada kekurangan saya mohon maaf jika berkenan mau menambahi atau ingin berbagi dengan pengujung yang lain silahkan berkomentar di bawah ini Terimakasih salam sukses untuk kita semua.