Lentera Hijrah: Evaluasi diri Kita Suatu Keharusan

Lentera Hijrah: Evaluasi diri Kita Suatu Keharusan

Keharusan Evaluasi diri

Bismillahhir rahmanir rahim Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Lentera Hijrah pada kesempatan kali ini akan membahas tentang evaluasi diri. Sewaktu kita meminta kepada Alloh SWT, agar ditunjuki jalan yang lurus, itu artinya kita diperintahkan Alloh SWT agar selalu berada di jalan yang lurus. Yaitu, jalan-jalan orang yang telah diberi niklmat oleh Alloh SWT, bukan jalan mereka yang di murkai Alloh SWT dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ6
Ihdinās ṣirāṭal-mustaqīm (Tunjukilah Kami jalan yang lurus).

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ7
Ṣirāṭal-ladzīna anʿamta ʿalaihim ġayril maġdūbi ʿalaihim walāḍḍāllīn (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat). (Al-Fatihah:6-7).

Sekarang coba evaluasi diri kita, apakah kita sudah berada pada jalan yang lurus. Jangan-jangan kita sudah berada di jalan yang dimurkai oleh Alloh SWT atau malah terjerumus ke jalan yang sesat. Dan gejalanya akhir-akhir ini, sepertinya sudah banyak di antara kita sudah tidak berada di jalan yang lurus lagi, bahkan terjebak di jalan yang dimurkai oleh Alloh SWT.

Evaluasi diri menurut islam

Mencari-cari kesalahan orang lain

Contohnya, betapa banyak di antara kita sekarang ini suka mencari-cari kesalahan orang lain di media sosial, padahal sesama muslim. Dan tentu saja itu padahal karangan agama kita. Begitu juga alangkah mudahnya dan banyak yang sekarang ini membuka aib orang lain atau saudara sesama muslim di media sosial. Padahal Rasulullah saw sudah mengingatkan untuk menutup aib saudara kita sesama muslim agar Alloh SWT menutup aib kita di akhirat kelak. Alloh SWT juga melarang kita menyakiti mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, sebagaimana Firman-Nya berikut:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al-Ahzab : 58).

Dalam firman Alloh SWT diatas, dengan tegas di jelaskan bahwa orang-orang yang menyakiti mukmin laki-laki maupun mukmin perempuan, tanpa ada alasan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Dan inilah yang sering kita lakukan sekarang ini, walaupun kita tidak punya alasan menyakiti seseorang, bahkan kita tidak kenal dengan mereka litu, tetapi enak saja menyakiti mereka lewat media sosial. Menhujat dan membuka aib mereka, memburuk-burukannya tanpa bukti yang nyata.

Artikel terkait: 7 Tempat Wisata Di Tangerang Yang Bikin Liburan Jadi Istimewa

Orientasi Kita Mestinya Akhirat

Semua itu kita lakukan karena banyak di antara kita, yang tanpa sadar sudah kehilangan orientasi yang benar. Mestinya orientasi hidup kita itu akhirat, arah hidup kita akhirat, bukan dunia. Mestinya kita lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Jangan sampai kita korbankan akhirat kita demi dunia.

Kalau kita sampai membiarkan diri kita mengumpulkan dosa, dengan menyakiti dan membuka aib orang lain, hanya karena beda pilihan dalam pilkada atau pilpres, artinya kita sudah mengorbankan akhirat demi dunia yang sementara ini. Kita lupa bahwa kita sedang menuju akhirat, tempat kita yang abadi. Di dunia kita cuman sementara, hanya sekitar enam puluh sampai dengan tuju puluh tahun, ini sabda Nabi SAW.

Dan Alloh SWT banyak sekali mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang dunia yang semantara dan akhiratlah yang kekal. Berikut Firman Alloh SWT:

يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.(Mu’min:39).

Dunia ini Hanya Sementara

Jadi kalaupun kita mendapatkan kesenangan di dunia ini, apa pun bentuk kesenangan itu, maka itu sifatnya sementara. Apalagi kesenangan yang buruk, seperti menyakiti, mencari kesalahan orang, membuka aib, menghujat dan sejenisnya. Ini adalah kesenangan yang palsu. Kesenangan yang menipu, yang menghimpun banyak dosa. Kesenangan yang merugikan akhirat kita. Untuk apa kalau akan merugikan akhirat. Jangan-jangan kita sudah tertipu oleh dunia. Padahal Alloh SWT sudah memperingatkan dalam firman-Nya berikut ini:

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid : 20).

Coba perhatikan awal ayat dan akhir ayat ini. Pada ayat: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan” dan akhir ayat: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. Nampaknya kita memang sudah tertipu oleh dunia. Kelihatan sekali kita sudah tertipu oleh dunia. Sewaktu dengan senang hati kita menyakiti yang lain. Membuka aibnya juga mencari-cari kesalahannya dan bahkan menghujatnya. Apa yang kita dapatkan, dosa yang banyak. Kita pikir itu sesuatu yang menyenangkan. Kita sudah tertipu oleh kesenangan dunia. Ini yang harus segera kita evaluasi. Harus bias mencoba evaluasi diri.

Mengutamakan Jiwa daripada Badan

Ada satu lagi yang harus kita evaluasi, yang bisa membuat kita tertipu tanpa kita sadari. Yaitu, sewaktu kita lebih mengutamakan badan daripada jiwa. Mestinya kita harus lebih mengutamakan jiwa daripada badan. Ingat, yang akan masuk surga itu jiwa, bukan bukan badan. Ini seperti yang Alloh SWT firmankan dalam al-Qur’an berikut ini:

Ayat yang dimaksud,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Dalam firman Alloh diatas, sangat jelas yang akan masuk surga itu jiwa, bukan badan. Yang dipanggil Alloh SWT masuk surga itu, jiwa yang tenang. Kalau badan kita dari tanah, maka pasti akan kembali ke tanah.

Pertanyaan besarnya adalah, jiwa yang tenang dan akan dipanggil masuk surga itu jiwa yang seperti apa?

Jiwa yang tenang itu adalah jiwa yang ridho dengan apa pun takdir Alloh SWT untuknya, apapun pemberian Alloh SWT baginya. Semua yangdari Alloh SWT disikapinya dengan dua hal. Kalau itu berbentuk menyenangkan, menggembirakan, anugrah dan karunia dia bersyukur menghadapinya. Di balik bersyukur itu ada pahala dan ada kebaikan. Dan kalau pemberian Alloh SWT itu berbentuk yang tiak menyenangkan, kesulitan, kesusahan dan kesedihan maka dia sabar, menghadapinya. Di balik sabar itu ada pahala yang tanpa batas dan pasti ada kebaikan. Jiwa yang tenang itu adalah jiwa yang tawakkal kepada Alloh SWT. Kalau usaha dan ikhtiar sudah maksimal, dan tetap jiga tidak tercapai apa yang di inginkan, maka pilihannya cuman satu, yaitu tawakkal. Karena Alloh SWT sudah berfirman:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq : 3).

Baca juga: 7 Tempat Wisata Di Jakarta Terbaik Yang Recomended

Jiwa yang Tenang adalah Kebaikan

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang senang berbuat baik. Tidak suka menyakiti dan menyusahkan orang lain. Hobbinya menyenangkan orang lain. Karena dia tahu persis berbuat baik itu perintah Alloh SWT dalam al-Qur’an dalam firmaNya:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah : 195).

Mereka yang senang berbuat baik ini, pasti jiwanya tenang. Karena perbuatan berbuat baik itu dicintai Alloh SWT dan yakinlah bahwa kalau kita berbuat baik maka kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita juga. Sesuai dengan firman Alloh SWT, “In Ahsantum, Ahsantum Lianfusikum”, yang artinya kalau engkau berbuat baik maka kebaikan itu kembali kepadamu. Atau dalam firman-Nya yang lain, “Hal Jazza-ul Ihsan, Illal Ihsan”, yang artinya tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga.

Kesimpulannya, mari EVALUASI diri kita setiap saat dan setiap membaca “Ihdinasysyirotol mustaqim”, evaluasi juga apa kita sudah berada dijalan yang benar, dijalan yang lurus. Orientasi akhirat dan mengutamakan jiwa daripada badan. (Drs. H. Bakrim Maas)

Cukup sekian pembahasan kali ini tentang evaluasi diri semoga bermanfaat dan menjadikan kita terus menjadi lebih baik dan memberikan nilai tambah untuk orang lain. Aamin

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.